Lusy Rismayani 2015 Institut Pertanian Bogor
Ini Gratis Tapi Hargai Penulis!
Terima Kasih
Ingin Skripsi Lengkap, Email: Lusyrismayani77@gmail.com
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman pangan sereal yang berpotensi
untuk dikembangkan, salah satunya adalah sorgum. Sorgum dapat tumbuh pada
wilayah semi arid (kering). Sorgum memiliki kandungan karbohidrat 70–80%,
protein 11–13%, lemak 2–5%, serat 1–3%, dan abu 1–2%. Salah satu produk olahan
biji sorgum adalah tepung. Kelebihan dari tepung sorgum adalah memperpanjang umur simpan,
memudahkan penyimpanan, dan bahan baku makanan (Suarni 2004).
Proses penepungan biji sorgum
diawali dengan proses penyosohan. Penyosohan digunakan untuk mengurangi lapisan
endosperm pada biji sorgum. Hal ini
dapat meningkatkan cita rasa karena turunnya kandungan tanin pada biji sorgum.
Proses penyosohan biji sorgum menghasilkan banyak
dedak yang biasa digunakan
untuk pakan ternak. Biji sorgum yang telah disosoh digiling menjadi tepung
sorgum dengan dua metode, yaitu metode penggilingan basah dan penggilingan
kering. Perendaman, penggilingan, dan pengeringan adalah tiga tahap berikutnya
yang membedakan penggilingan basah dengan penggilingan kering. Metode penggilingan
kering dan penggilingan basah pada tepung mempengaruhi komposisi kimia dan
karakteristik fisiko kimia (Chiang dan Yeh 2002; Yoenyongbuddhagal dan Noomhorm
2002; Suksomboon et al. 2005)
Pemanfaatan protein dari sorgum
dan dedak masih belum optimal. Pemanfaatan protein tersebut dapat membantu
meningkatkan jumlah protein makanan manusia (Afify et al. 2012). Peningkatan produktivitas sorgum menunjukkan potensi
sorgum dan dedaknya dapat dikembangkan dengan baik di Indonesia (Bank Indonesia
2009).
Kelarutan protein merupakan
atribut fungsional yang dibutuhkan komponen bahan pangan. Kelarutan memiliki
pengaruh besar terhadap sifat-sifat fungsional seperti pengikat air dan minyak,
emulsifikasi, gelasi, viskositas, dan pembentuk busa (Ragab et al. 2004).
Protein tanaman di dalam pengolahan pangan digunakan sebagai ingredien
fungsional untuk meningkatkan stabilitas dan memperbaiki tekstur disamping
meningkatkan kualitas nutrisi dari produk pangan (El Nasri dan El Tinay 2007).
Umumnya protein yang terdapat pada tanaman serealia seperti beras, gandung,
kacang-kacangan, biji-bijian, dan lain sebagainya adalah albumin, globulin,
prolamin, dan glutelin. Oleh karena itu, mempelajari karakterisitik dari
masing-masing fraksi protein tersebut sangat penting agar didapatkan protein
yang memiliki nilai tambah bagi industri pangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar